Jumat, 06 November 2020

MOJOKERTO: KEPEDIHAN DI MASA MUDA



            Namaku  ketika lahir adalah  kusno . Aku memulai hidup ini sebagai anak yang sakit-sakitan.  Bapak berpikir, “Namanya tidak cocok. Kita harus memberinya nama lain supaya tidak sakit-sakitan lagi.” Bapak adalah pengagum Mahabharata, cerita klasik Hindu zaman dahulu. Aku belum mencapai usia remaja, ketika Bapak berkata, “Engkau akan kami beri nama Karna.  Karna  adalah seorang pahlawan terbesar dalam Mahabharata.” Jadi Karna pasti sosok yang sangat kuat dan sangat besar, aku berteriak kegirangan.

“Benar, nak.”  sahut Bapak. “Juga setiap pada kawan-kawannya dan memiliki keyakinan tanpa mempedulikan akibatnya.

          Dikenal karena keberanian dan kesetiaannya, karena adalah seorang panglima perang dan pembelaan negara yang setia “Bukankah karna berarti telinga?” aku bertanya agak kebingungan. “Ya, pahlawan perang ini diberi nama demikian karena kelahirannya yang tidak biasa. Sebagaimana dikisahkan dalam Mahabharata, dulu ada seorang putri cantik bernama Kunti. Suatu hari selagi bermain-main dalam taman, putri itu terlihat oleh Batara Surya Dewa Matahari. Batara Surya sangat terpikat dan ingin bermain cinta dengan sang putri. Dia menyelimuti Putri itu dan membelainya dengan kekuatan Sinar cintanya. Berkata kekuatan Sinar cintanya Putri yang masih perawan itu hamil. Tentu saja perbuatan Dewa Matahari terhadap Putri yang masih suci itu merupakan tindakan jahat dan menimbulkan persoalan besar baginya. Bagaimana mengeluarkan  si bayi tanpa merusak keperawanan Sang Putri dia tidak berani merusaknya melalui kelahiran bayi yang normal. Apa yang harus  dilakuka… Akhirnya persoalan itu  dapat dipecahkan nya dengan mengeluarkan bayi melalui telinga Sang Pustri, maka pahlawan besar Mahabharata itu diberi nama karna yang berarti telinga.

        Sambil memegang Bahuku dengan kuat, Bapak menatap kedalam mataku. Aku selalu berdoa katanya agar anakku menjadi seorang Patriot dan pahlawan besar dari rakyatnya semoga engkau menjadi karna yang kedua, nama Karna dan Karno sama saja dalam bahasa Jawa huruf “A” dibaca “O” awalan “Su” pada kebanyakan nama kamu berarti baik paling baik jadi Sukarno berarti pahlawan yang terbaik.  

         Aku dilahirkan di tengah-tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam kemiskinan. aku tidak memiliki sepatu. Aku tidak mandi dalam air yang mengucur dari kran. Aku tidak mengenal sendok dan garpu. Kemelaratan yang begitu sangat ini dapat menyebabkan hati kecil menjadi sangat sedih. Dengan kakakku perempuan sukarmini, yang umurnya 2 tahun lebih tua dariku kami merupakan satu keluarga yang terdiri 4 orang  tapi gaji Bapak Rp25 sebulanm dikurangi sewa rumah kami di Jalan Pahlawan 88 neraca menjadi Rp15 dan dengan 1 dolar waktu itu sekitar Rp45. 

         Anda dapat membayangkan betapa bersahajanya rumah tangga kami. Baru ketika aku berumur 6 tahun kami pindah ke Mojokerto. Lingkungan tempat tinggal kami kumuh dan keadaan para tetangga kami tidak berbeda dengan lingkungan itu sendiri namun mereka selalu memiliki sedikit uang untuk papaya atau permen. Tapi aku tidak. Tidak pernah. Lebaran adalah hari besar bagi umat Islam hari penutup dari bulan puasa, yang selama 1 bulan kami menahan diri dari makan dan minum sejak matahari terbit sampai terbenam. Lebaran tak berbeda dengan hari natal bagi penganut Agama Kristen. Orang makan besar dan memberi hadiah, tetapi kami tak pernah makan besar ataupun memberi hadiah. Karena kami tidak punya uang . 

         Di malam menjelang lebaran sudah menjadi kebiasaan bagi anak-anak untuk memasang petasan semua anak-anak melakukannya semua kecuali aku. Di hari lebaran lebih setengah abad yang lalu aku berbaring seorang diri dalam kamar tidurku yang kecil dan hanya cukup untuk satu tempat tidur sama dengan pilu mengintip arah ke langit melalui tiga buah lubang udara yang kecil-kecil pada dinding bambu titik lubang udara itu berukuran besar batu bata. 

         Aku mah begitu malang nasibku. Hatiku terasa teriris di sekitarku aku mendengar petasan perlapisan disambut dengan teriakan kegembiraan kawan-kawanku. Dapatkah orang mengetahui perasaanmu sebagai bocah kecil  ketika semua kawan-kawanmu entah dengan cara bagaimana dapat membeli petasan seharga satu sen itu dan kau tidak? Kau akan merasa sangat sedih! Kau ingin mati. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan seorang anak untuk mengatasi perasaan itu ialah dengan menangis terisak-isak sepuas-puasnya diatas tempat tidurnya. Aku teringat bagaimana aku menangis kepada Ibu dari tahun ketahun aku selalu berharap tapi tak sekalipun aku bisa menyalakan mercon aku merasa begitu menyesal pada diriku sendiri.

         Kemudian di malam harinya datang seorang tamu menemui Bapak. Dia membawa sebuah bungkusan kecil. “ini,”  katanya sambil menyodorkan bingkisan itu kepadaku. Aku begitu gemetar dicekam rasa gembira mendapatkan hadiah itu, sehingga hampir tak sanggup membukanya. isinya petasan tak ada harta lukisan ataupun istana di dunia ini yang dapat memberikan kegembiraan seperti waktu itu aku tak bisa melupakan peristiwa itu selama hidupku.

         Kami begitu Melarat sehingga sering tidak bisa makan nasi 1 kali dalam sehari kebanyakan kami memakan ubi kayu, jagung yang ditumbuk dengan bahan makanan lainnya malahan tidak mampu membeli beras biasa seperti yang suka dibeli oleh penduduk desa. Dia hanya bisa membeli padi, setiap pagi  Ibu mengambil lesung dan dia menumbuk, menumbuk, dan terus menumpuk  butir-butir yang mengandung sekam itu sampai menjadi beras seperti yang dijual orang di pasar.

         Dengan cara begini katanya kepadaku suatu hari ketika sedang bekerja dalam teriknya matahari sampai telapak tangannya dan melepuh “aku menghemat uang satu sen, dan uang satu sen dapat membeli sayuran  buatmu, nak.” sejak hari itu, selama beberapa tahun kemudian, setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah aku menumbuk padi untuk membantu ibuku. Kemelaratan seperti yang Kami alami itu menimbulkan keakraban. Bila tidak ada sesuatu untuk dimakan, bila nampak aku tidak punya apa-apa di dunia ini selain dari Ibu, aku lengket padanya karena dia adalah satu-satunya sumber pemuasan hatiku, dia adalah permennya tak dapat kumiliki dan dia adalah semua milikku yang ada di dunia ini Ibu memiliki hati yang begitu besar.

        Bapak, sebaliknya adalah seorang guru yang keras sekalipun sudah berlangsung berjam-jam kalau dia menaruh kasihan mengajariku membaca dan menulis  “Sekarang, Karno, hafal ini dalam hati Ha-Na-Ca-Ra-Ka.... Sekarang Karno, pelajari  A-B-C-D-E”  begitu terus menerus  sampai kepalaku terasa pusing. Lagi-lagi kemudian, “Hayo Karno, ulangi abjad … Karno, baca ini … Karno tulis itu … “Bapak, juga, memiliki keyakinan, anaknya yang lahir di saat fajar menyingsing itu kelak akan menjadi  orang.

        Sesekali kalau aku berbuat nakal kamu dia menghukumku dengan keras. Seperti tadi pagi itu Aku memanjat pohon jambu di pekarangan rumah kami dan aku menjatuhkan sarang burung. Wajah Bapak tampak kelabu.  “Kukira aku sudah mengajarimu agar menyayangi binatang,” bentaknya.

Dengan menggigil ketakutan  aku menjawab, “Betul, Pak.”

“Masih ingatkah kau arti kata kata: “Tat Twan Asi, Tat Twan Asi?”

 “Artinya ‘Dia adalah aku dan aku adalah  dia, engkau adalah aku dan aku adalah engkau.”

 “Dan apakah tidak kuajarkan kepadamu bahwa ini memiliki arti khusus?”

 “Ya, Pak. Maksudnya, Than berada do diri kita semua, “jawabku dengan patuh.

  Dia menatap pada penjahat yang masih berumur 7 tahun. “Bukankah engkau sudah diperintahkan untuk melindungi makhluk Tuhan?”

“Ya. pak.”

 Dan coba katakan padaku apa  sebenarnya burung dan telur itu?”

 “Mereka adalah ciptaan Tuhan,” jawabku dengan gemetar. “Tapi jatuhnya sarang itu tidak disengaja. Aku tidak ingin berbuat demikian.”

Meski ada  permintaan maaf, Bapak memukul pantat dengan rotan. Aku anak yang berkelakuan baik tetapi Bapak menghendaki disiplin yang keras dan cepat marah kalau aturannya tidak dituruti.

          Sekalipun dililit oleh rumput-rumput kemelaratan bunga-bunga kasih sayang tetap mengelilingiku. Aku akhirnya menyadari bahwa kasih saya menghapus segala yang buruk. hasrat untuk mencintai telah menjadi salah satu kekuatan pendorong dalam hidupku. disamping Ibu ada Sarinah, gadis pembantu kami yang membesarkanku, Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami. Tidak menikah, dia kami anggap sebagai anggota keluarga. Dia tidur dengan kami, tinggal bersama kami, memakan apa yang kami makan, tapi dia tidak mendapatkan gaji sepeserpun. Dialah yang mengajariku mengenal kasih sayang. Sarinah mengajariku  untuk mencintai rakyat-rakyat kecil. Selagi dia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk disampingnya dan dia memberi nasehat “Karno, dia atas segalanya engkau harus mencintai ibumu. tapi berikutnya engkau harus mencintai rakyat kecil. engkau harus mencintai umat manusia.

          Sarinah adalah satu nama biasa tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita biasa. dia orang yang paling besar pengaruhnya dalam hidupku.seorang pembantu bagi kami bukanlah pelayan dalam pengertian barat di kepulauan kami. Kami hidup berdasarkan asas gotong royong kerjasama saling menolong.

           Gotong royong sudah mengakar di bumi Indonesia tidak membayar upah bagi pekerja di rumah tangga pada awalnya tidak dikenal dalam konsep di lingkungan di  masyarakat kami. Bila saja ada pekerjaan berat yang harus diselesaikan setiap orang turut membantu. Kau akan mendirikan rumah? Baik, akan kubawakan batu tembok, kawanku akan membawa semen. Kami berdua akan membantumu membangun rumah itu,  itulah gotong royong. Setiap orang ikut ambil bagian. Ada tamu datang mendadak di rumahmu?  Baik,  jangan kuatir. Aku diam-diam akan mengirim kue ke rumahmu lewat pintu belakang atau beras. Atau nasi goreng. Itulah gotong royong. Saling membantu.

          Sewaktu aku memasuki usia Taman kanak-kanak, nenek dari pihak bapak berkata berikanlah anak itu kepadaku untuk sementara titik Aku akan memeliharanya. dan begitulah Aku kemudian tinggal di Tulungagung yang letaknya tidak jauh dari Mojokerto hidupnya sederhana siapa di antara kami yang kaya di waktu itu? memang ada juga yang tidak terlalu miskin, nenek memiliki usaha kecil di bidang batik jadi setidak-tidaknya dia sanggup memberiku makan 

         Pada umur 14 tahun  Aku bersekolah di sekolah pribumi gimana kami semua sama kami semua 30 orang murid di Inlandscbe School Sekolah kelas 2 bapakku menjadi Mantri Guru yang berarti kepala sekolah. Orang pribumi dilarang memakai pangkat kepala sekolah di waktu itu belum ada Bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia sampai kelas 3 setiap murid berbicara dalam bahasa Jawa dari kelas 3 sampai kelas 5 guru memakai bahasa Melayu bahasa percakapan yang telah tersebar ke seluruh bagian Hindia Belanda yang akhirnya menjadi dasar bagi bahasa nasional kami bahasa Indonesia dua kali seminggu kami diajak dalam bahasa Belanda  ketika aku naik kelas 5 aku dipindah Sekolah Tinggi Belanda Tetapi Menurut ketentuan kolonial tak seorangpun akan berhasil dalam karirnya tanpa pendidikan Belanda karena itu kita harus mengikuti ketentuan itu aku akan menghadap kepala sekolah rendah Belanda untuk mengajukan permohonan pindah untukmu.

  Gedung itu bagus terbuat dari kayu jati bukan bambu seperti sekolah kami dan di ding ding luarnya dicat biru muda di situ terdapat 17 dan dan berbeda dengan di sekolah pribumi, meja-meja di sini mempunyai tempat tinta dan laci untuk buku. 

        Ketika tiba waktunya masuk sekolah menengah, Bapak sudah tahu apa yang harus dilakukannya memasuki aku ke sekolah menengah yang menjadi pintu masuk ke perguruan tinggi, Hogere Burger School di Surabaya, nak,  katanya,  aku telah merencanakan langkah ini begitu kau dilahirkan kedunia. Semua telah diaturnya dan aku akan tinggal di rumah H.O.S. Cokroaminoto, orang yang kemudian mengubah seluruh hidupku. 

Aku tidak membawa apa-apa ketika berangkat ke Surabaya Aku tidak punya sesuatu untuk di bawa  satu-satunya yang menandai bahwa aku pergi jauh adalah sebuah tas kecil jangan sedikit pakaian. Bapak meminta salah seorang guru untuk mengantarkan aku naik kereta api yang lamanya 6 jam itu, tak ada pesta ataupun acara perpisahan yang kuingat hanyalah bahwa aku menangis sedih aku meninggalkan rumah. Aku meninggalkan Ibuku aku baru anak berumur 15 tahun yang masih merasa takut takut. dan Ibu berpesan jangan sekali-kali kau lupakan, nak,  bahwa kau adalah putra sang fajar.”

Masa depan IAIN SYEKH NURJATI CIREBON

Profile Calon Rektor 2023-2027